Gamelan Jawa merupakan seperangkat instrument sebagai pernyataan musical yang sering disebut dengan istilah karawitan. Karawitan berasal dari bahasa jawa rawit berarti rumit, berbelit – belit, tetapi rawit juga bararti halus, cantik, berliku-liku dan enak. Kata jawa karawitan khususnya dipakai untuk mengacu kepada musik gamelan, musik Indonesia yang bersistem nada nondiatonis dalam laras slendro dan pelog yang garapan-garapannya menggunakan sistem notasi, warna suara, ritme, memilikia fungsi, pathet dan aturan garap dalam bentuk sajian instrumentalia, vokalia dan campuran yang indah didengar. Seni gamelan jawa mengandung nilai-nilai histories dan filsofis bagi bangsa Indonesia. Dikatakan demikian sebab gamelan jawa merupakan salah satu seni budaya yang siwariskan oleh para pendahulu dan sampai sekarang masih banyak digemari serta ditekuni. Secara Hipotesis, masyarakat Jawa sebelum adanya pengaruh Hindu telah mengenal sepuluh keahlian, diantaranya adalah wayang dan gamelan. Dahulu pemilikan gamelan ageng Jawa hanya terbatas untuk kalangan istana. Kini siapapun yang berminat dapat memilikinya sepanjang bukan gamelan-gamelan Jawa yang termasuk kategori pusaka Timbul Haryono, 2001. Secara filosofis gamelan jawa merupakan satu bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa. Hal demikaian disebabkan filsafat hidup masyarakt Jawa berkaitan dengan seni budayanya yang berupa gamelan Jwa serta berhubungan dekat dengan perkembangan religi yang dianutnya. Istilah gamelan telah lama dikenal di Indonesia, sudah disebut pada beberapa kakawin Jawa Kuno. Arti kata gamelan, sampaio sekarang masih dalam dugaan-dugaan. Mungkin juga kata gamelan terjadi dari pergeseran atau perkembangan dari kata gembel. Gembel adalahalat untauk memukul. Karena cara membunyikan instrumen itu dengan dipukul-pukul. Barang yang sering dipukul namanya pukulan, barang yang sering diketok namanya ketokan atau kentongan, barang yang sering digembal namanya gembelan. Kata gembelan ini bergeser atau berkembang menjadi gamelan. Mungkin juga karena cara membuat gamelan itu adalah perunggu yang dipukul-pukul atau dipalu atau digembel, maka benda yang sering dibuat dengan cara digembel namanya gembelan, benda yang sering dikumpul-kumpulkan namanya kempelan dan seterusnya gembelan berkembang menjadi gamelan. Dengan kata lain gamelan adalah suatu benda hasil dari benda itu digembel-gembel atau dipukul-pukul Trimanto,1984. Bagi masyarakat Jawa gamelan mempunyai fungsi estetika yang berkaitan dengan nilai-nilai sosial, moral dan spiritual. Kita harus bangga memiliki alat kesenian tradisional gamelan. Keagungan gamelan sudah jelas ada. Duniapun mengakui bahwa gamelan adalah alat musik tradisional timur yang dapat mengimbangi alat musik barat yang serba besar. Di dalam suasana bagaimanapun suara gamelan mendapat tempat di hati masyarakat. Gamelan dapat digunakan untuk mendidik rasa keindahan seseorang. Orang yang biasa berkecimpung dalam dunia karawitan, rasa kesetiakawanan tumbuh, tegur sapa halus, tingkah laku sopan. Semua itu karena jiwa seseorang menjadi sehalus gendhing-gendhing Trimanto, 1984. Diambil dari buku Seni Karawitan Jawa, Dr. Purwadi, dan Drs. Afendy Widayat. 2006
Simbolsimbol yang ada dalam seni karawitan dapat dikatakan menyerupai filosofi manusia, maupun pola hidup manusia. Diantaranya, penyebutan nada-nada instrumen dalam laras slendro, 1 (Barang), 2 (Gulu/Jangga), 3 (Dhadha), 5 (Lima), 6 (Nem), dan 1 (Barang alit). Nama-nama tersebut penggambaran atau ditafsirkan sebagai bagian organ tubuh manusia.
Ilustrasi karawitan Sunda. Foto Sunda sudah dikenal cukup lama sebagai seni musik tradisional yang tempat asal dan berkembangnya berada di daerah Sunda. Musik karawitan Sunda memiliki ciri-ciri tertentu yang dipengaruhi oleh berbagai aspek dari masyarakat karawitan adalah istilah lain untuk menyebutkan musik tradisional. Mengutip dari buku berjudul Seni Budaya yang ditulis Zackaria Soetedja dkk., musik tradisional merupakan musik yang hidup dan berkembang secara turun-temurun di suatu daerah Seni Musik KarawitanApabila dilihat dari segi pergelarannya, karawitan atau seni musik tradisional terbagi menjadi tiga kelompok. Mengutip kembali buku yang ditulis Zackaria Soetedja dkk., berikut penjelasan mengenai ketiga kelompok karawitan sekar merupakan seni suara atau vokal daerah yang diungkapkan melalui suara mulut manusia dan bersentuhan dengan nada, bunyi, atau instrumen pendukungnya. Sekar ialah pengolahan suara yang khusus untuk menimbulkan rasa seni yang berhubungan langsung dengan indra sekar secara khusus, yakni memformulasikan dan mengungkapkan perasaan melalui kata dan senandung dengan media seni suara manusia sebagai karawitan gending adalah seni suara yang diungkapkan melalui alat musik daerah atau alat bunyi-bunyian. Arti kata gending ialah susunan nada-nada yang mempunyai bentuk yang teratur menurut kesepakatan ini merupakan bentuk penyajian seni suara daerah yang memadukan sekar dan gending. Sekar gending berarti bentuk sajian seni suara dalam bentuk nyanyian yang diiringi jenis seni suara tersebut memiliki tugas yang sama beratnya. Masing-masing saling mengisi dan mempunyai keterkaitan yang tak dapat karawitan Sunda. Foto Nada dalam Karawitan SundaPada karawitan Sunda, sistem tangga nada yang digunakan adalah pentatonik. Terdapat lima nada pokok dalam karawitan Sunda. Bila merujuk pada buku Seni Budaya yang ditulis Agus Budiman dkk., nada-nada musik pada seni karawitan dilambangkan dengan notasi daminatila. Notasi ini memiliki lima nada pokok yang disimbolkan dengan1. Angka 1 5 4 3 2 1 yang disebut nada Huruf T S G P L T yang disebut nada mutlak notasi buhun.3. Notasi tersebut dibaca da la ti na mi singkatan dari Tugu adalah lambang nada 1, dibaca singkatan dari Loloran adalah lambang nada 2, dibaca singkatan dari Panelu adalah lambang nada 3, dibaca singkatan dari Galimer adalah lambang nada 4, dibaca singkatan dari Singgul adalah lambang nada 5, dibaca nada pokok, dalam karawitan Sunda terdapat pula nada sisipan atau nada hiasan yang disebut nada uparenggaswara. Misalnya, nada pamiring atau nada meu 2+, Bungur atau nada ni 3-, pananggis atau nada teu 4+, dan sorog atau nada leu 5+.